Home / Berita / Kisah Pemain Legenda Arema Banting Setir Jadi Satpam

Kisah Pemain Legenda Arema Banting Setir Jadi Satpam

yohanes geohera

yohanes geohera

Rela bekerja extra time demi dapat tambahan pemasukan.
Rabu, 4 Maret 2015 | 05:27 WIBOleh : Marco Tampubolon, D.A. Pitaloka (Malang)

VIVA.co.id – Postur kecil dan gerakan yang lincah menjadi ciri khas Yohanes Geohera saat memperkuat Arema Malang. Mengenakan nomor punggung 8, pemain asal Indonesia Timur itu sempat tenar lewat umpan-umpan akuratnya. Suporter Singo Edan pun kerap berteriak gol..gol..gol, saat Yohanes tengah menggiring bola di lapangan.

Di era Galatama, nama Yohanes memang cukup populer di kalangan Aremania.  Pria kelahiran Nusa Tenggara Timur itu merupakan satu dari belasan pemain yang memperkuat Arema saat pertama kali terbentuk dan berlaga di Galatama, 1987 lalu.

“Saya satu angkatan sama Singgih Pitono, Mecky Tata, Jamrawi dan Panus Korwa. Kita adalah tim awal ketika Arema main di Galatama,” kata Yohanes mengawali kisah perjalanan karirnya di Arema kepada VIVA.co.id, Selasa, 3 Maret 2015.

Empat tahun lamanya Yohanes berseragam Singo Edan, sebelum pindah ke tim sekota, Persema Malang. Selama memperkuat Arema, Yohanes telah melewati berbagai kejadian yang tak terlupakan, termasuk saat Arema durundung masalah finansial.

“Boleh dibilang kami makan tahu tempe setiap hari, setiap bulan selalu berfikir apakah bulan depan bisa gajian. Tapi pemain sangat kompak dan mau menerima masukan antara satu dengan yang lain,” pria yang saat ini sudah berusia setengah abad itu.

Bersama Arema, Yohanes memang tak sempat merasakan manisnya gelar juara liga. Pasalnya, Singo Edan baru merebut trofi Galatama di musim 1993. Namun baginya, pernah mengenakan seragam Singo Edan merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.

Beralih Jadi Satpam

Saat ini, tubuhnya tak lagi mungil. Gerakannya juga tidak selincah dulu. Namun, semangat Yohanes, tetap terjaga dalam mengarungi kerasnya hidup demi keluarga.

Pria kelahiran Nusa Tenggara Timur (NTT)) itu harus menghidupi keluarganya dengan bekerja sebagai petugas keamanan (Satpam) di salah satu fasilitas laboratorium pertanian milik Universitas Brawijaya di Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Ini profesi baru yang dijalaninya usai gantung sepatu pada 1993 lalu.

“Sudah lima bulan terakhir saya jadi petugas keamanan di sini, setiap pagi berangkat pukul 07.30 dan pulang pukul 16.00, tujuh hari dalam satu minggu, lembur terus,” katanya saat ditemui VIVA.co,id, Selasa 3 Maret 2015.

Setiap pagi, Yohanes menempuh perjalanan 30 menit dari kediamannya di Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Dia bertanggungjawab mengamankan berbagai peralatan di laboratorium Fakultas Pertanian tersebut. Ketika jam istirahat siang, bekal makanan dari istrinya pun menjadi menu favorit untuk mengisi perut.

Pria berbadan tegap ini memilih bekerja penuh selama satu minggu demi tambahan uang lembur untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pensiun Dini Demi Putri Bungsu

Setelah gantung sepatu, Yohanes sebenarnya sempat bekerja di  Kantor PDAM Kota Malang. Namun, pada 2006, Yohanes harus pensiun dini, demi mendapat dana tambahan untuk pengobatan putri bungsunya Yohana yang menderita penyakit glaukoma.

“Uang pesangonnya saya pakai membayar biaya berobat anak saya,” kata Yohanes.

Sejak itu, dia terus mencari berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup seluruh keluarganya, sekaligus biaya berobat putrinya. Meskipun glaukoma belum bisa dijinakkan, namun upaya Yohanes mendukung anaknya berbuah manis.

Pada 2013, bakat Yohana dalam mengolah suara terendus pencarian bakat X-Factor. Mahasiswi jurusan Sastra Inggris Universitas Brawijaya itu tembus hingga babak gala premier sebelum pulang lebih awal lantaran kalah dukungan SMS.

“Sampai sekarang dia masih menyanyi kalau ada undangan saja. Operasinya kemarin juga masih jalan. Untuk berobat setiap bulan minimal Rp700 ribu sekali nebus resep. Syukur kemarin Pak Rudy (Rudy Widodo, GM Arema Cronus), Pak Iwan (Iwan Budianto, CEO Arema Cronus) dan Pak Rendra (Rendra Kresna, Presiden Kehormatan Arema Cronus) datang dan memberi bantuan untuk operasi Yohana,” bebernya.

Tanpa pekerjaan tetap, Yohanes bersyukur banyak mendapat bantuan dari kawan lamanya. Selain itu, anak sulungnya, Eka Hera (25 tahun), juga banyak menopang kebutuhan keluarga. Sulungnya yang tercatat sebagai pemain sepakbola PSBK Blitar, klub peserta Divisi Utama itu, juga tercatat sebagai PNS di Kota Blitar.

Mimpi yang Belum Terwujud

Di usianya yang sudah setengah abad, Yohanes masih aktif bermain bola bersama veteran lain. Setiap pagi, dia pun masih rutin joging untuk mejaga kesehatan.

Sesekali, dia masih bermain bola bersama legenda Singo Edan lain yang masih fit dan ada di Malang. Di sela kesibukan bekerja, Yohanes pun masih terus mengikuti perkembangan Arema saat ini.

“Timnya sekarang jauh berbeda dengan Arema dulu. Arema Cronus sangat kaya, gaji pemainnya ratusan juta dan prestasinya juga bagus,” katanya.

Yohanes pun ikut gembira dengan perkembangan pesat yang berlangsung pada Arema sekarang. Meskipun harapannya hingga kini belum juga tercapai, yakni melihat Eka Hera, membela Arema.

“Anak saya itu lama bermain di Barito Putera untuk ISL, pernah dipanggil seleksi Timnas U-19 jaman Alfred Riedl. Sekarang main di PSBK, Divisi Utama. Saya berharap suatu saat bisa melihat anak saya main di Arema, itu saja,” tutur Yohanes. (one)

Sumber : bola.viva.co.id

About

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*